Riwayat Hidup Ahmad Musthafa Al Maraghi

AHMAD MUSTHAFA AL-MARAGHI

Mustafa Al-Maraghi
1.      Biografi
Nama lengkapnya adalah Ahmad Musthafa bin Muhammad bin Abdul Mun’im al-Maraghi. Kadang-kadang nama tersebut diperpanjang dengan kata Beik, sehingga menjadi Ahmad Musthafa al-Maraghi Beik. Ia berasal dari keluarga yang sangat tekun dalam mengabdikan diri kepada ilmu pengetahuan dan peradilan secara turun-temurun, sehingga keluarga mereka dikenal sebagai keluarga hakim. Beliau lahir di kota Marāghah, sebuah kota kabupaten di tepi barat sungai Nil sekitar 70 Km. di sebelah selatan kota Kairo, pada tahun 1300 H./1883 M. Nampaknya, kota kelahirannya inilah yang melekat dan menjadi nisbah bagi dirinya, bukan keluarganya. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa nama Al Maraghi tidak mutlak menunjukkan kepada dirinya. Ia wafat pada usia 71 tahun (1371 H./1952 M.) di Hilwan, sebuah kota kecil di sebelah selatan kota Kairo.
Ayahnya mempunyai 8 orang anak. Lima di antaranya laki-laki, yaitu Muhammad Musthafa al-Maraghi, Ahmad Musthafa al-Maraghi, Abdul Aziz al-Maraghi, Abdullah Musthafa al-Maraghi, dan Abdul Wafa’ Mustafa al-Maraghi. Hal ini perlu dijelaskan sebab seringkali terjadi salah kaprah tentang siapa sebenarnya penulis tafsir al-Maraghi di antara kelima putra Mustahafa itu. Hal yang sering membingungkan karena Musthafa al-Maraghi juga terkenal sebagai seorang mufassir. Memang benar bahwa sebagai mufassir Muhammad Musthafa juga melahirkan sejumlah karya tafsir, hanya saja ia tidak berhasil menafsirkan al-Qur’an secara menyeluruh. Ia hanya berhasil menulis tafsir beberapa bagian al-Qur’an, seperti surat al-Hujurat dan lain-lain. Dengan demikian, jelaslah yang dimaksud di sini adalah Ahmad Musthafa al-Maraghi, adik kandung dari Muhammad Musthafa al-Maraghi.
2.      Pendidikan beliau
Masa kanak-kanaknya dilalui dalam lingkungan keluarga yang religius. Pendidikan dasarnya ia tempuh pada sebuah Madrasah di desanya, tempat di mana ia mempelajari Alquran, memperbaiki bacaan, dan menghafal ayat-ayatnya. Sehingga sebelum menginjak usia 13 tahun ia sudah menghafal seluruh ayat Alquran. Di samping itu, ia juga mempelajari ilmu tajwid dan dasar-dasar ilmu agama yang lain.

Setelah menamatkan pendidikan dasarnya tahun 1314 H/1897 M, atas persetujuan orang tuanya, Al-Maraghi melanjutkan pendidikannya ke Universitas Al-Azhar di Kairo. Ia juga mengikuti kuliah di Universitas Darul Ulum Kairo. Ia berhasil menamatkan studinya di kedua Universitas ini pada saat bersamaan, tahun 1909 M. Di kedua Universitas tersebut, Al-Maraghi mendapatkan bimbingan langsung dari tokoh-tokoh ternama dan ahli di bidangnya masing-masing pada waktu itu. Mereka antara lain Syekh Muhammad Abduh, Syekh Muhammad Bukhait Al-Muthi’i, Ahmad Rifa’i Al-Fayumi, dan lain-lain. Para tokoh inilah yang menjadi narasumber bagi Al-Maraghi, sehingga ia tumbuh menjadi sosok intelektual Muslim yang menguasai hampir seluruh cabang ilmu agama.
Setelah menamatkan pendidikannya di Universitas al-Azhar dan Darul ‘Ulum, ia terjun ke masyarakat, khususnya di bidang pendidikan dan pengajaran. Beliau mengabdi sebagai guru di beberapa madrasah dengan mengajarkan beberapa cabang ilmu yang telah dipelajari dan dikuasainya. Beberapa tahun kemudian, ia diangkat sebagai Direktur Madrasah Mu’allimin di Fayum, sebuah kota setingkat kabupaten yang terletak 300 Km. sebelah barat daya kota Kairo. Dan, pada tahun 1916, ia diminta sebagai Dosen Utusan untuk mengajar di Fakultas Filial Universitas al-Azhar di Qurthum, Sudan, selama empat tahun.
Pada tahun 1920, setelah tugasnya di Sudan berakhir, ia kembali ke Mesir dan langsung diangkat sebagai dosen Bahasa Arab di Universitas Darul ‘Ulum serta dosen Ilmu Balaghah dan Kebudayaan pada Fakultas Bahasa Arab di Universitas al-Azhar. Pada rentang waktu yang sama, al-Maraghi juga mengajar di beberapa madrasah, di antaranya Ma’had Tarbiyah Mu’allimah, dan dipercaya memimpin Madrasah Utsman Basya di Kairo. Karena jasanya di salah satu madrasah tersebut, al-Maraghi dianugerahi penghargaan oleh raja Mesir, Faruq, pada tahun 1361 H.
Dalam menjalankan tugas-tugasnya di Mesir, al-Maraghi tinggal di daerah Hilwan, sebuah kota satelit yang terletak sekitar 25 Km. sebelah selatan kota Kairo. Bahkan, ia menetap di sana sampai akhir hayatnya. Untuk mengenang jasa dan pengabdiannya, namanya kemudian diabadikan sebagai nama salah satu jalan yang ada di kota tersebut.
3.      Karya karyanya
Al-Maraghi adalah salah seorang tokoh terbaik yang pernah dimiliki oleh dunia Islam. Dalam usianya yang terbentang selama 71 tahun, ia telah melakukan banyak hal. Selain mengajar di beberapa lembaga pendidikan yang telah disebutkan, ia juga memberikan sumbangsih yang besar terhadap umat ini lewat beragam karyanya. Salah satu di antaranya adalah Tafsīr al-Marāghi, sebuah kitab tafsir yang beredar di seluruh dunia Islam sampai saat ini. Adapun karya-karyanya yang lain, yaitu:
1. Al-Hisbat fi al-Islâm;
2. Al-Wajîz fi Ushûl al-Fiqh;
3. ‘Ulûm al-Balâghah
4. Muqaddimat at-Tafsîr;
5. Buhûts wa Ārâ’ fi Funûn al-Balâghah
6. Ad-Diyânat wa al-Akhlâq.
Keterangan ini merujuk pada kitab Al-Mufassirūn Hayātuhum wa Manhajuhum karya Sayyid Muhammad Ali Iyazi. Keterangan Ali Iyazi direferensikan pada kitab Al-A’lam karya az-Zarkaly dan kitab Minhaj al-Madrasat al-‘Aqliyah al-Hadītsah karya Fahd ar-Rumy; Dirujukkan pula pada kitab At-Tafsīr al-‘Ilmy li al-Qur’ān fi al-Mīzān karya Ibn Hajar; Muhammad Husein azh-Zhahabi memasukkan juga al-Maraghi dalam pembahasan tafsirnya, tetapi yang dijelaskan di situ tentang Muhammad Musthafa al-Maraghi (pengarang Buhuts Tafsiriyat), yang lahir tahun 1881 M. dan wafat tahun 1945, kakak kandung dari Ahmad Musthafa al-Maraghi yang dijelaskan oleh Ali Iyazi di atas.

4.      Tafsir Almaraghi
Adapun penjelasan detail tentang tafsir Almaraghi yang saya kutif dari kitab “Almufassirun (hayatuhum wa manhajuhum)” yang ditulis oleh Syekh muhammad ‘Ali Iyazi sebagai berikut:
1.      Nama Kitab               : Tafsir Alqur’an Al karim dikenal dengan Tafsir Almaraghi
2.      Penyusun                   : Syekh Ahmad bin Musthafa Al maraghi (singkatan “Baik’)
3.       Lahir                         : 1300 H ( 1883 M )
4.      Wafat                        : 1371 H ( 1952 M )
5.      Mazhab                      : Syafi’iyyah (dalam bidang Fiqih) dan
Asy’ariyyah (dalam hal ‘aqidah)
6.      Bahasa                       : Arab
7.      Tahun Penyusunan    : 1361 H (1944 M ) Sampai 1365 H (1949 M ).
8.      Jumlah jilid                : 30 Juz’ didalam 10 jilid
9.      Cetakan                     : cetakan pertama di qahirah yaitu percetakan “musthafa Albabi
Alhalbi” pada tahun 1369 H ( 1950 M ).
10.  Cetak ulang               : Diberut yaitu percetakan “Daru ihya’i al turats Al ‘arabi”
Pada tahun 1985 M.

11.  Metodologi
Dari segi metodologi, al-Maraghi telah mengembangkan metode baru dalam menafsirkan al-Qur’an, Menurut sebagian pengamat tafsir, al-Maraghi adalah mufasir yang pertama kali memperkenalkan metode tafsir yang memisahkan antara ‘uraian global’ dan ‘uraian perincian’. Sehingga, penjelasan ayat-ayat di dalamnya dibagi menjadi dua kategori, yaitu Ma’na Ijma-li dan Ma’na Tahlili.

Kemudian, dari segi sumber yang digunakan selain menggunakan ayat dan atsar, al-Maraghi juga menggunakan ra’yi (nalar) sebagai sumber dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Namun perlu diketahui, penafsirannya yang bersumber dari riwayat (relatif) terpelihara dari riwayat yang lemah (dhaif) dan susah diterima akal, atau tidak didukung oleh bukti-bukti secara ilmiah.

Al-Maraghi sangat menyadari kebutuhan kontemporer. Dalam konteks kekinian, merupakan keniscayaan bagi mufasir untuk melibatkan dua sumber penafsiran, aql (akal) dan naql (nas al-Qur’an dan hadis). Karena memang hampir tidak mungkin menyusun tafsir kontemporer dengan mengandalkan riwayat semata. Sebab, selain jumlah riwayat (naql) yang cukup terbatas juga karena kasus-kasus yang muncul membutuhkan penjelasan yang semakin komprehensif, seiring dengan perkembangan problematika sosial, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang berkembang pesat. Sebaliknya, melakukan penafsiran dengan mengandalkan akal semata juga tidak mungkin, karena dikhawatirkan rentan terhadap penyimpangan-penyimpangan.

Tidak dapat dimungkiri, Tafsir al-Maraghi sangat dipengaruhi oleh tafsir-tafsir yang ada sebelumnya, terutama Tafsir al-Manar. Hal ini wajar, mengingat dua penulis tafsir tersebut, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, adalah guru yang paling banyak memberikan bimbingan kepada al-Maraghi di bidang tafsir. Bahkan, sebagian orang berpendapat bahwa Tafsir al-Maraghi adalah penyempurnaan terhadap Tafsir al-Manar yang sudah ada sebelumnya. Metode yang digunakan juga dipandang sebagai pengembangan dari metode yang digunakan oleh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha.
Adapun sistematika dan langkah-langkah yang digunakan dalam Tafsir al-Maraghi adalah sebagai berikut:
Pertama, Menghadirkan satu, dua, atau sekelompok ayat yang akan ditafsirkan. Pengelompokan ini dilakukan dengan melihat kesatuan inti atau pokok bahasan. Ayat-ayat ini diurut sesuai tertib ayat mulai dari surah al-Fatihah sampai surah an-Nas.
Kedua, Penjelasan kosa kata (Syarh al-Mufradat). Setelah menyebutkan satu, dua, atau sekelompok ayat, al-Maraghi melanjutkannya dengan menjelaskan beberapa kosa kata yang sukar menurut ukurannya. Dengan demikian, tidak semua kosa kata dalam sebuah ayat dijelaskan melainkan dipilih beberapa kata yang bersifat konotatif atau sulit bagi pembaca.
Ketiga, Makna ayat sacara umum (Ma’na al-Ijmali). Dalam hal ini, al-Maraghi berusaha menggambarkan maksud ayat secara global, yang dimaksudkan agar pembaca sebelum melangkah kepada penafsiran yang lebih rinci dan luas ia sudah memiliki pandangan umum yang dapat digunakan sebagai asumsi dasar dalam memahami maksud ayat tersebut lebih lanjut. Kelihatannya pengertian secara ringkas yang diberikan oleh al-Maraghi ini merupakan keistimewaan dan sesuatu yang baru, di mana sebelumnya tidak ada mufassir yang melakukan hal serupa.
Keempat, Penjabaran (al-Idhah). Pada langkah terakhir ini, al-Maraghi memberikan penjelasan yang luas, termasuk menyebutkan Asbab an-Nuzul jika ada dan dianggap shahih menurut standar atau kriteria keshahihan riwayat para ulama. Dalam memberikan penjelasan, kelihatannya al-Maraghi berusaha menghindari uraian yang bertele-tele (al-Ithnab), serta menghindari istilah dan teori ilmu pengetahuan yang sukar dipahami. Penjelasan tersebut dikemas dengan bahasa yang sederhana, singkat, padat, serta mudah dipahami dan dicerna oleh akal.

12.  Ide Pembaharuan
Penulisan tafsir al-maraghi tidak terlepas dari rasa tanggung jawab dan tuntutan ilmiah seorang penulis sebagai salah seorang ulama tafsir, dalam mengatasi problema masyarakat kontemporer yang membutuhkan pemecahan secara cepat dan tepat. Ia merasa terpanggil untuk menawarkan solusi berdasarkan makna yang terkandung dalam nas al-Qur’an. Karena alasan itulah tafsir al-Maraghi tampil dengan gaya modern, yakni tafsir yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang sudah maju.

Al-Maraghi berhasil menggabungkan dari beberapa metode tafsir yang ada, melalui kitab tafsirnya, al-Maraghi juga mengembangkan salah satu unsur penafsiran baru, yakni memisahkan antara penjelasan global (ijmali) dan penjelasan rincian (tahlili).
13.  Aliran atau Kecenderungan Penafsiran
Para mufasir yang mempunyai kecenderungan tersendiri dalam menafsirkan ayat ayat Al-qur’an itu akan menimbulkan aliran aliran tafsir Al-qur’an, diantaranya ialah tafsir lughawi/adabi, tafsir al-fiqh, tafsir shufi, tafsir ‘Ilmi, tafsir falsafi.
Menurut  Prof.Dr. H Abd Djalal bahwa aliran tafsir Al-Qur’an ada tujuh yakni:
Tafsir lughawi/adabi
Tafsir fiqh/ahkam
Tafsir shufi/’isyari
Tafsir ‘itizali
Tafsir Syi’i/bathini
Tafsir Aqli/falsafi
Tafsir ‘Ilmi/asri
Menurut Prof.Dr. Quraish Shihab aliran (corak) ada:
Fiqhy
Shufy
‘Ilmy
Bayan
Falsafy
Adaby
‘Ijtimaiy
Dari pengertian tersebut maka tafsir Al-Maragi termasuk aliran atau kecenderungan tafsir lughawi/adabi yang menitik beratkan kepada bahasa meliputi segi ‘Irab dan harakat bacaannya, pembentukan kata, susunan kalimat, kesusastraan.
14.  Menghindari Israiliyat
Al-Maragi sengaja mengelak dari menyinggung masalah israiliyat, mengenai ahlul kitab, ia mengatakan. “ Sesungguhnya mereka itu membawa kepada kaum muslimin pendapat pendapat didalam kitab mereka, berupa tafsiran yang tidak diterima oleh akal, dinafikan oleh agama dan tidak dibenarkan oleh realita serta sangat jauh dari hal yang dapat dibuktikan oleh ilmu pada abad abad setelahnya.”
5.      Kesimpulan
Ahmad musthafa Al maraghi adalah seorang ulama kontemporer yang menjadi milik kekayaan intelektual muslim dibuktikan dengan karyakarya beliau yang memberikan manfaat besar bagi ummat muslim.
Beliau adalah sosok yang terlahir dari keluarga dengan prinsip agama yang kuat. Maka makin jelaslah ke akuratan karya karya yang beliau ciptakan.
Demikianlah tulisan yang dapat saya buat untuk memenuhi tugas kuliah studi naskah tafsir.

Sumber: https://plus.google.com/104178944852005469456/posts/K4LHo59gWgY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *